PADEPOKAN LORAM


Ibn al-Faridh, Sufi Cinta Ilahi

Posted in Sufi Tasawuf Makrifat oleh hamba pada 23 April 2010
Tags: ,

Website {Walijo dot Com} Ibn al-Faridh yang bernama lengkap Syarifuddin ‘Umar Abu a-Hassan ‘Ali. Ibn al-Faridh seorang sufi  yang mengutamakan cinta kepada Ilahi, topik ini pula yang menjadi theme dalam puisi-puisi Ibnu Faridh. Mengenai karya-karyanya akan ada di artikel tersendiri Ibn al-Faridh, Puisi-Puisi Cinta.

Ibn al-Faridh lahir di Kairo tahun 576 H,  ayahnya berasal dari Hammah Syria, ayahnya adalah seorang Faridh, ahli dalam ilmu hukum kewarisan dalam Islam. Ibn al-Faridh belajar ilmu hadist kepada Ibn ‘Asakir dan al-Hafizh al-Mundziri. Ibn al-Faridh lebih menyukai jalan sufi , dengan zuhud seperti yang dilaksanakan ayahnya.

{Walijo dot Com} Dikisahkan ketika dia sholat Jum’at, sang khatib mendendangkan puisi, dalam hatinya Ibn al-Faridh menentang hal itu dan berrniat akan menegurnya. Ketika sholat sudah selesai, Ibn al-Faridh akan keluar dari masjid, sang khatib memanggilnya, serta mendendangkan puisi:

“Di antara hamba-Nya jua Dia menetapkan karunia-Nya. Maka riak airpun Nyanyi dan lengangpun tasbih kepadanya.  Sungguh, tasbih itu ibadah terbaik bagi sufi, Bahkan bagi suatu kaum pun ia memperbaiki“.{Walijo dot Com}

Sejak peristiwa itu, Ibn al-Faridh mengarah pada kehidupan sufi dengan merantau dari keramaian hiruk pikuk masyarakat, dengan tujuan untuk membersihkan jiwa serta menyempurnakan ruh. Ketika Ibn al-Faridh kembali dari perantauannya, memasuki Perguruan al-Suyufiyah di Kairo, tiba-tiba penjual buah yang renta menghampirinya dan berkata:

” ‘Umar! Kalbumu tidak akan terbuka di Mesir ini. Di Makkah-lah kalbumu akan terbuka. Pergilah ke sana, kini saatnya kalbumu terbuka!”.

Tahun 613 H, Ibn al-Faridh pergi ke Hijaz dan tinggal di Makkah sampai tahun 628 H, di Makkah -lah tersingkapnya berbagai pengetahuan maupun rahasia dan terbukanya kalbu Ibn al-Faridh. Tahun 628 H Ibn al-Faridh kembali ke Mesir, tetapi di sini ia begitu sedih karena kalbunya kembali tertutup.

Raja al-Kamil al-Ayyubi menunjungi Ibn al-Faridh, di masjid al-Azhar. Tetapi begitu mengetahuinya, Ibn al-Faridh pergi lewat pitu belakang masjid. Ini menunjukkan kezuhudan Ibn al-Faridh dan tidak ingin mendekati penguasa.

Ibn al-Faridh meninggal tahun 632 H di Qarafah di atas bukit Mukattam, dibawah sebuah masjid. Makam Ibn al-Faridh masih terpelihara sampai sekarang. {Walijo dot Com}

Baca juga:

Kembali ke

Satu Tanggapan to 'Ibn al-Faridh, Sufi Cinta Ilahi'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'Ibn al-Faridh, Sufi Cinta Ilahi'.


  1. […] {Walijo dot Com} Posting ini adalah kesinambungan dari artikel  Ibn al-Faridh, Sufi Cinta Ilahi yang mengupas tentang sejarah dan  ajaran Ibn Al-Faridh. Sedang di artikel ini dibahas tentang […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: